Rabu, 16 September 2015

Makalah Pandega CUEKS 2013



MAKALAH PANDEGA 2015
ANGKATAN 2013 (CUEKS)
Judul
KORELASI PENERAPAN TRIBINA PRAMUKA PANDEGA DAN TRIDHARMA PERGURUAN TINGGI




Disusun Oleh:
Laila Mahmudah
NIR 13.14.504


GERAKAN PRAMUKA RACANA FATAHILLAH-NYI MAS GANDASARI
GUGUS DEPAN 07-081/07-082
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015



KATA PENGANTAR

            Puji syukur penyusun haturkan kepada Allah swt. yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya , sehingga proses penyusunan makalah Pandega dengan judul Judul ”Korelasi Penerapan Tribina Pramuka Pandega Dan Tridharma Perguruan Tinggi” dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Shalawat beserta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah saw.
            Penyusun mengucapkan terimakasi kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini. Penyusun berharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis khususnya.

                                                                                                Jakarta, 22 Mei 2015

                                                                                                            Penulis


BAB I
PENDAHULUAN
I.A. Latar Belakang
Gerakan Pramuka merupakan wadah pembentukan karakter bagi generasi bangsa. Melalui kegiatan Kepramukaan, anggota Pramuka di harapkan menjadi manusia yang yang beriman, bertaqwa, berbudi pekerti luhur, bermoral, berwawasan kebangsaan, berilmu pengetahuan dan teknologi, serta mempunyai soft skil atau kecakapan hidup.
Pramuka Perguruan Tinggi sebagai salah satu wadah pembinaan generasi muda memiliki sifat khusus yang berbeda dengan yang lain. Sifat khusus itu antara lain ditunjukan oleh predikat yang dimiliki anggota Gerakan Pramuka di Perguruan Tinggi yakni mahasiswa, yang nota bene merupakan cendikiawan muda. Tugas yang diemban oleh mahasiswa dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat membutuhkan corak dan bentuk pembinaan yang khusus pula. Karena itu, pembinaan Pramuka Perguruan Tinggi memerlukan pola dan strategi pembinaan yang berbeda dengan anggota pramuka lainnya seperti Siaga dan Penggalang.
            Tiga misi yang diembankannya tersebut bukanlah tugas yang ringan untuk direalisasikan. Missi pendidikan di Perguruan Tinggi merupakan proses berlangsungnya pewarisan ilmu pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya, agar dengan demikian proses alih generasi juga diikuti dengan proses alih ilmu pengetahuan dalam arti luas. Kemudian dalam proses berlangsungnya pewarisan ilmu pengetahuan membutuhkan pengembangan konsep atau teori ke arah konsep atau teori yang lebih baik. Usaha pengembangan teori atau konsep dilaksanakan secara sistematis dan melalui prosedur ilmiah, kegiatan ini disebut penelitian. Usaha pewarisan dan pengembangan ilmu pengetahuan oleh Perguruan Tinggi harus senantiasa memiliki pijakan dan relevansi dengan kondisi masyarakat. Usaha memformulasikan peran Perguruan Tinggi dalam dinamika masyarakat inilah yang lebih dikenal dengan nama pengabdian masyarakat.
            Realitasnya, para mahasiswa yang mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi terkesan enggan mengikuti kegiatan Pramuka karena menganggap bahwa Pramuka hanya untuk anak sekolahan. Sementara misi Tridharma Perti biasanya diterjemahkan hanya dalam bentuk kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dan bahkan tak jarang berlatar politik praktis. Untuk itulah maka perlu adanya penjelasan bahwasanya terdapat korelasi dalam penerapan Tribina Pramuka Pandega dan Tridharma Perguruan Tinggi.

I.B. Rumusan Masalah
            Dari Latar belakang diatas, dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apakah yang dimaksud dengan Tribina Pramuka Pandega
2.      Apakah yang dimaksud dengan Tridharma Perguruan Tinggi
3.      Apakah terdapat hubungan antara penerapan Tribina Pramuka Pandega dan Tridharma Perguruan Tinggi.

I.C. Tujuan Penulisan
            Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk :
1.      Menjelaskan tentang Tribina Pramuka Pandega
2.      Menjelaskantentang Tridharma Perguruan Tinggi
4.      Memaparkan hubungan antara penerapan Tribina Pramuka Pandega dan Tridharma Perguruan Tinggi.

I.D. Manfaat Penulisan
            Menyediakan penjelasan tentang korelasi dalam penerapan Tribina Pramuka Pandega dan Tridharma Perguruan Tinggi






BAB II
PEMBAHASAN
II.A Tribina Pramuka Pandega
1.      Pengertian Pandega
Pramuka Pandega adalah golongan Pramuka dan sekaligus sebutan bagi anggota Pramuka yang berusia dari 21 tahun sampai dengan 25 tahun. Pramuka Pandega memiliki jenis kegiatan yang sama dan dilakukan bersama-sama dengan Pramuka Penegak. Pembinaan Pramuka Pandega dilakukan mulai dari tingkat Gugusdepan dalam satuan yang disebut Racana, dan di tingkat Kwartir dapat mengikuti Satuan karya dan Dewan Kerja.[1] Istilah 'pandega' mempunyai arti 'pemuka' atau 'ahli'. Hal ini mengandung filosofi berdasarkan romantisme perjuangan bangsa Indonesia di mana setelah masa 'menegakkan' kemerdekaan Republik Indonesia dilanjutkan dengan masa 'memandegani' pelaksanaan pembangunan di negeri Indonesia.

2.      Tribina pramuka pandega
Tribina Pandega  terdiri  dari  bina diri, bina satuan dan bina masyarakat ketiganya merupakan siklus saling melengkapi dan saling mempengaruhi. Melalui program-program kegiatan Bina Diri di Racana para Pandega mengembangkan kompetensi pengetahuan, sikap dan ketrampilannya sebagai bekal melakukan Bina Satuan di Gugusdepan dan Kwartir serta sebagai bekal merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi Bina Masyarakat di lokasi yang dipilihnya.
Melalui kegiatan Bina Satuan para Pandega akan memiliki pengalaman berharga untuk meningkatkan kemampuan dirinya karena  dapat terlibat langsung dalam sebuah proses interaksi pendidikan kepramukaan yang diikat oleh sebuah kode kehormatan dan prinsip-prinsp dasar metode pendidikan kepramukaan. Demikian pula melalui program Bina Masyarakat para Pramuka Pandega berkesempatan untuk meningkatkan kepekaan dan partisipasinya didalam program pemberdayaan masyarakat dan sekaligus menjadi ajang mencari pengalaman bagaimana cara mendekatkan pendidikan kepramukaan dengan kebutuhan  masyarakat. [2]
a.       Bina Diri ( Pengembangan Kapasitas Kepribadian).
Melalui program-program Bina Diri para  Pramuka Pandega diberi kesempatan untuk mengembangkan kapasitas kepribadiannya, seperti :
·         Menjalankan proses perjalanan bakti Pramuka Pandega sesuai dengan tahapan yang ditetapkan (pencapaian TKU, TKK dan Pandega Garuda) serta sekaligus sebagai  media untuk  menghayati penerapan Kode Kehormatan Gerakan Pramuka dan media untuk memperoleh pengalaman nyata dalam penerapan Prinsip Dasar Metodik  Pendidikan Kepramukaan.
·         Dedikasi  dan  pemantapan sikap kepemimpinan yang akan berguna bagi bangsa dan negara, satuan Gerakan Pramuka serta  masyarakat di mana ia tinggal.
·         Pendewasakan kecerdasan spritual, intelektual, emsosiolan dan mental yang akan berguna bagi pengembangan kemapuan profesionalnya baik untuk mengabdikan diri di Satuan Gerakan Pramuka maupun berkecimpung di dunia profesional sesuai dengan pilihannya di tengah masyarakat.
·         Mengembangkan keterampilan, bakat dan  arah  profesi sebagi bekal untuk  menemukan jalan kemandirian dalam berprofesi, berkarya maupun berwirausaha.
b.      Bina satuan (Pengembangan kemampuan berpartisipasi dalam Pengelolaan Satuan Gerakan Pramuka)
Bina satuan merupakan tindak lanjut dari program-program Bina Diri. Melalui program Bina Satuan Para Pramuka Pandega diberi kesempatan untuk berlatih menerapkan dan mengamalkan  kemampuan dirinya didalam pembinaan satuan Gerakan Pramuka, berupa :
·         Ikut serta dalam pengelolaan Kwartir dengan menjadi Pengurus Dewan Kerja atau Anggota Sangga Kerja dan Kelompok Kerja yang dibentuk oleh Kwartir. Melalui Dewan Kerja, para Pandega  akan memiliki pengalaman membantuk Kwartir Gerakan Pramuka didalam merencanakan, melaksanakan, dan mengadakan evaluasi kegiatan yang sesuai dengan aspirasi mudanya.
·         Ikut serta menjadi calon Pembina atau Instruktur muda di Satuan Siaga, Penggalang atau Penegak di Gugusdepan. Melalui partisipasi bina satuan di Gugus depan para Pramuka Pandega akan memiliki pengalaman langsung melihat dan membantu para Pembina didalam melatih dan membina para Pramuka di tingkat Gugusdepan.
·         Ikut serta menjadi anggota atau instruktur Satuan Karya, keanggotaan ini akan menjadi bekal dan dapat bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan para Pramuka Pandega dalam bidang-bidang tertentu. Pengetahuan dan ketrampilan ini akan dapat bermanfaat untuk mendukung program bina satuan dan juga bina masyarakat.
c.       Bina masyarakat  (Pengembangan kemampuan berpatisipasi dalam pemberdayaan masyarakat)
Bina masyarakat merupakan penerapan kemampuan lebih lanjut dari program-program bina diri dan bina satuan. Melaui program Bina Maysrakat Para Pramuka Pandega diberi kesempatan untuk mengembangkan kecerdasan sosialnya, melalui :
·         Pengembangan kesadaran bermasyarakat  sehingga para Pramuka Pandega dapat berperan dalam kehidupan bermasyarakat secara sehat sekaligus dapat meletakkan landasan bagi masa depannya sesuai dengan minat dan pilihannya.
·         Para Pramuka Pandega  diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi kepemimpinannya  dengan   berperan langsung dalam pemberdayaan masyarakat baik  sebagai peneliti, penyuluh, penggerak, pelopor dan pemimpin masyarakat, sehingga di kemudian hari dapat berperan sebagai pemimpin bangsa dan negara.
·         Para Pramuka Pandega diberi kesempatan untuk melakukan pengabdian  kepada masyarakat meliputi segala bidang kehidupan manusia,seperti bidang ekonomi, sosial, budaya, agama, kesejahteraan hidup, keluarga berencana, lingkungan hidup, keamanan dan pertahanan dan lain-lain.
·         Para Pramuka Pandega diberi kesempatan untuk melakukan “networking” atau pengembangan jaringan kerjasama dengan berbagai lembaga pemerintah maupun swasta untuk mendukung program-program Bina Masyarakat yang dilaksanakannya.
II.B Tridharma Perguruan Tinggi
Perguruan Tinggi sebagai lembaga pendidikan jenjang terakhir dari hirarki pendidikan formal mempunyai tiga missi yang diemban yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat atau lebih dikenal dengan Tridharma Perguruan Tinggi. Dalam UU sisdiknas pasal 20 ayat 3 menerangkan bahwa kewajiban Perguruan Tinggi terdiri dari tiga hal yaitu:
1.      Pendidikan
Dharma yang pertama adalah pendidikan, H.A.R. Tilaar mengatakan bahwa pendidikan adalah proses pembudayaan. Sedangkan menurut YB Mangunwijaya pendidikan adalah ‘belajar sejati’, yakni mengantar dan menolong anak didik untuk mengenal dan mengembangkan potensi-potensi dirinya agar menjadi manusia yang mandiri, dewasa, dan utuh. Tujuan pendidikan menurut Paolo Freire adalah memanusiakan manusia. Oleh karena itu universitas bukan hanya wahana transfer ilmu pengetahuan akan tetapi bertujuan membentuk manusia yang intelektual, bermoral, berbudaya, serta berkepribadian dewasa.
Elemen birokrat dan dosen harus mampu menyadari dan menginterpretasikan hakikat mendidik dan mengarahkan peserta didik. Mahasiswa harus menyadari dan kritis bagaimana ia dididik dan diarahkan kepada pengenalan potensi diri. Model pendidikan konservatif seperti dosen mengajar dan murid belajar, lalu dosen adalah penentu segala-galanya sangatlah tidak tepat. KH Ahmad Dahlan mengatakan bahwa jika seseorang menjadi guru maka ia belajar untuk menjadi murid”, artinya dosen harus mau belajar dari mahasiswa dan mahasiswa harus mau belajar dari dosen. Dosen berhak mengajar mahasiswa namun mahasiswa berhak mengkritik dosen tentunya sesuai dengan etika moral yang berlaku.
2.      Penelitian
Dharma yang kedua adalah penelitian, Kata ‘penelitian’ dalam bahasa Inggris adalah ‘research’ yang merupakan gabungan dua kata yaitu ‘re’ (kembali) dan ‘search’ (mencari), sehingga arti kata penelitian adalah mencari kembali. T. Hillway dalam buku introduction to research menjelaskan bahwa “penelitian adalah penyelidikan secara hati-hati dan sempurna atas sebuah masalah, sehingga ditemukan pemecahannya”.
Woody mendefinisikan penelitian sebagai metode menemukan kebenaran dengan berpikir kritis. Inti dari penelitian adalah kemampuan memecahkan masalah. Semakin kompleksnya permasalahan yang dialami dunia baik sosial maupun sains menjadi tantangan kaum intelektual untuk memecahkannya. Mahasiswa dituntut secara keilmuan untuk bisa memecahkan permasalahan-permasalahan baik saat ini maupun masa datang.
3.      Pengabdian
Dharma ketiga adalah pengabdian kepada masyarakat, masyarakat merupakan elemen pembentuk sebuah negara, disanalah berbagai permasalahan seringkali timbul. Dunia akademik dibangun bersumber dari masyarakat, oleh sebab itu arahan yang terpenting dalam pembangunan keilmuan adalah efek untuk masyarakat. Output mahasiswa adalah bagaimana ia bisa menerapkan pengetahuan dan skill yang dimiliki untuk pemberdayaan masyarakat. Ideologi nilaisme dan kerjaisme masih menjadi hal dominan yang dipahami mahasiswa ketika belajar di Perguruan Tinggi. Padahal hakikat belajar di Perguruan Tinggi bukan hanya sebuah nilai maupun mendapatkan pekerjaan yang dikehendaki, yang paling esensial adalah bagaimana pengetahuan yang didapat di bangku kuliah bisa diimplementasikan untuk mengatasi persoalan masyarakat.
Ketika sebuah Universitas mengklaim sebagai wahana kebebasan akademik maka ini merupakan konsekuensi logis untuk menanamkan tri darma Perguruan Tinggi. Kebebasan akademik menurut William W.Brickman, adalah hak seorang dosen untuk mengajar, serta hak seorang mahasiswa untuk belajar tanpa adanya pembatasan dan pencampuran dengan hal-hal yang tidak rasional. Tanpa kebebasan maka tri darma tidak akan berjalan efektif, namun setelah kebebasan terwujud maka tri darma harus ditanamkan dan dioptimalkan. Dan dapat disimpulkan bahwa majunya peradaban bangsa ditandai dengan majunya pendidikan, penelitian, dan pengabdian.
II.D Korelasi Penerapan Tribina Pramuka Pandega Dan Tridharma Perguruan Tinggi
Dari penjelasan di atas tentang Tribina Pramuka Pandega dan Tridharma Perguruan Tinggi, dapat kita simpulkan bahwa korelasi antara keduanya sangatlah kental. Pramuka pandega yang berpangkalan di Perguruan Tinggi memiliki tujuan serta misi yang sama dengan Perguruan Tinggi yang bersangkutan.
Bina Diri dengan pendidikan adalah dua aspek yang tidak dapat dipisahkan, dimana Pramuka Pandega terus berupaya untuk mencari berbagai ilmu baik di dalam maupun di luar Gerakan Pramuka, sehingga dapat memperkaya pengetahuan, pengalaman, dan keterampilannya agar dapat membantu dirinya menjadi mandiri.
Pada tahap Bina satuan, di samping dapat membantu Gerakan Pramuka baik dalam hal pengelolaan Kwartir maupun Gugus depan, Pandega merupakan pasangan kerja sepengabdian bagi para Pembina Pramuka. Dan ini tidak dapat kita lepaskan dengan penelitian, karena setelah Pandega mampu membina dirinya sendiri maka pandega dituntut mampu memecahkan masalah yang dihadapinya baik masalah di lingkungan Pramuka maupun di luar Pramuka, baik dalam tingkat gugusdepan maupun sampai ke tingkat ranting bahkan cbang dan nasional, dan untuk memecahkan masalah tersebut harus dilakukannya penelitian (research).
Contoh kecil, ketika Pandega mengajar Pramuka (Bina Satuan) satuan siaga misalnya di Sekolah Dasar yang didalamnya terhimpun bermacam jenis watak anak dri berbagai suku, maka pandega harus mampu mengkoordinir dan memimpin serta mampu memecahkan masalah yang dihadapi oleh satuan terssbut. Dan sebelum melakukan pemecahan masalah pandega harus meneliti problematika apa dan kendala apa yang dihadapi sehingga munculnya permasalahan. Sama halnya ketika seorang mahasiswa sedang mempelajari Biologi tentang “mengapa ikan bandeng tidak hidup di air laut? maka untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut haruslah dilakukan penelitian tentang ikan bandeng.
Bina masyarakat yang ada dalam Tribina Pramuka Pandega dengan pengabdian masyarakat yang ada dalam dalam Tridharma Perguruan Tinggi adalah dua hal yang bukan berbeda. Kedua-duanya sama-sama mengedepankan implementasi pengabdian masyarakat. Jika Pramuka Pandega diharapkan sudah memiliki kepribadian yang kuat sehingga jiwa baktinya diamalkan untuk kepentingan umum dan lebih mengutamakannya daripada kepentingan pribadi, serta mencari dan membuat kesempatan untuk dapat membaktikan dirinya kepada masyarakat, secara perorangan atau bersama-sama. Pramuka Pandega diarahkan untuk mengembangkan kepemimpinannya, dengan menganjurkan berperan dalam masyarakat sebagai peneliti, penyuluh, penggerak, pelopor dan pemimpin masyarakat, sehingga di kemudian hari dapat berperan sebagai pemimpin bangsa dan negara.
Maka Perguruan Tinggi membentuk insan akademik intelektualis yang dapat mempertanggungjawabkan kualitas keilmuannya dan membentuk insan akademis yang mengabdi (sensitif/ involve) terhadap masyarakat. maka kebebasan belajar (freedom to learn) harus diartikan secara luas, yaitu tidak hanya terbatas pada dinding-dinding kampus, akan tetapi juga kebebasan untuk mempelajari persoalan-persoalan yang ada di luar dinding-dinding kampus (masalah riil dalam masyarakat).
Di manapun kita belajar, akhir keberhasilan kita ialah ketika kita mampu terjun langsung ke dalam masyarakat, dengan landasan ini lah maka baik pramuka maupun Perguruan Tinggi sangat mengedepankan pengabdian masyarakat. Pramuka peduli, penghijauan, desa binaan, taman baca, bakti sosial, mahasiswa anti narkoba, seminar-seminar tentang kesehatan, pelatihan-pelatihan tentang kewira usahaan dan kegiatan lainnya sering dilakukan dan di selenggarakan oleh kedua lembaga ini (Pramuka dan Perguruan Tinggi) tidak lain hanya ditujukan untuk pengabdian masyarakat umum agar masyarakat dapat mencicipi dan merasakan betapa Pramuka dan Perguruan Tinggi sangatlah peduli dan menjunjung tinggi masyarakat sekitar untuk terus maju berkembang.













BAB III
PENUTUP
III.A. Kesimpulan
            Baik Perguruan Tinggi maupun pramuka pandega sama-sama berorientasi mencetak peserta didiknya menjadi insan kamil; berpendidikan, berwawasan luas, berbudi luhur serta bermanfaat bagi masyarakat umum. Ini terbukti karena:
1.      Mahasiswa di Perguruan Tinggi/ Pramuka Pandega merupakan masa pengabdian dan pengembangan kepemimpinan.
2.      Mahasiswa di Perguruan Tinggi / Pramuka Pandega diharapkan sudah memiliki kepribadian yang kuat sehingga jiwa baktinya diamalkan untuk kepentingan umum (Bina Masyarakat)
3.      Mahasiswa di Perguruan Tinggi / Pramuka Pandega diharapkan mempunyai sikap lebih mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi (Bina Masyarakat)
4.      Mahasiswa di Perguruan Tinggi/ Pramuka Pandega berusaha sendiri meningkatkan keterampilannya dan kemampuannya sehingga dapat lebih banyak membantu dirinya agar dapat mandiri (Bina Diri )
5.      Mahasiswa di Perguruan Tinggi/ Pramuka Pandega selalu berusaha mencari dan membuat kesempatan untuk dapat membaktikan dirinya kepada masyarakat, secara perorangan atau bersama-sama.
6.      Mahasiswa di Perguruan Tinggi/ Pramuka Pandega Pramuka Pandega diarahkan untuk mengembangkan kepemimpinannya, dengan menganjurkan berperan dalam masyarakat sebagai peneliti, penyuluh, penggerak, pelopor dan pemimpin masyarakat, sehingga di kemudian hari dapat berperan sebagai pemimpin bangsa dan negara.
III.B Saran
 Diharapkan bagi para pramuka pandega yang berpangkalan di Perguruan Tinggi dapat menselaraskan pengaplikasian Tribina Pramuka dan Tridharma Perti agar fungsinya sebagai generasi penerus bangsa dan cendekiawan muda Indonesia dapat dijalankan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. AD/ART Gerakan Pramuka MUNAS 2013. http://www.pramukaindonesia.com/2015/02/ad-art-gerakan-pramuka-indonesia-hasil.html Diakses pada 22 Mei 2015 Pukul 21.51 WIB
Anonim. Tribina Moodel Pembinaan Pramuka Pandega.2012. http://ensiklopediapramuka.com . Dakses pada 22 Mei 2015 Pukul 20.23 WIB
Kemendikti. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. www.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2012/.../UU20-2003-Sisdiknas.pdf. 2003. Diakses pada 22 Mei 2015 Pukul 20.48 WIB
Sunardi, Andri BOB. Boyman Ragam Latih Pramuka. Bandung: Nuansa Muda.2013
















BIODATA PENULIS

Assalamualaikum Wr. Wb…
Salam Pramuka !
Nama saya Laila Mahmudah Ramlan, biasa di panggil Kak ila. Merantau dari Riau untuk merasakan panasnya ibu kota dan melanjutkan pendidikan di kampus UIN Jakarta sejak tahun 2012 lalu. Kuliah di jurusan pendidikan Bilogi, FITK. Saya bukan orang yang asik di ajak ngobrol karena lebih sering bengong. Tapi kalau ada yang perlu bisa menghubungi saya di 0823-7326-0339 atau email saja ke lailam_ramlan@ymail.com . sekian dulu perkenalannya
                                          Wassalam,
                                                      Salam Pramuka !



[1] Modul KMD Kwarda Lampung 2011.
[2] Anonim.Tribina Model Pembinaan Pramuka Pandega ( www.ensiklopediapramuka.com.2012).






Tidak ada komentar:

Posting Komentar