MAKALAH PANDEGA 2015
ANGKATAN 2013 (CUEKS)
Judul
KORELASI PENERAPAN TRIBINA PRAMUKA
PANDEGA DAN TRIDHARMA PERGURUAN TINGGI
Disusun Oleh:
Laila Mahmudah
NIR 13.14.504
GERAKAN PRAMUKA RACANA
FATAHILLAH-NYI MAS GANDASARI
GUGUS DEPAN 07-081/07-082
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun haturkan kepada
Allah swt. yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya , sehingga proses
penyusunan makalah Pandega dengan judul Judul ”Korelasi Penerapan Tribina
Pramuka Pandega Dan Tridharma Perguruan Tinggi” dapat diselesaikan tepat pada
waktunya. Shalawat beserta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah
saw.
Penyusun mengucapkan terimakasi
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini. Penyusun
berharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi pembaca pada umumnya dan
bagi penulis khususnya.
Jakarta,
22 Mei 2015
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
I.A.
Latar Belakang
Gerakan Pramuka merupakan wadah pembentukan karakter bagi
generasi bangsa. Melalui kegiatan Kepramukaan, anggota Pramuka di harapkan
menjadi manusia yang yang beriman, bertaqwa, berbudi pekerti luhur, bermoral,
berwawasan kebangsaan, berilmu pengetahuan dan teknologi, serta mempunyai soft
skil atau kecakapan hidup.
Pramuka Perguruan Tinggi sebagai salah satu wadah pembinaan
generasi muda memiliki sifat khusus yang berbeda dengan yang lain. Sifat khusus
itu antara lain ditunjukan oleh predikat yang dimiliki anggota Gerakan Pramuka
di Perguruan Tinggi yakni mahasiswa, yang nota bene merupakan cendikiawan muda.
Tugas yang diemban oleh mahasiswa dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi
yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat membutuhkan
corak dan bentuk pembinaan yang khusus pula. Karena itu, pembinaan Pramuka Perguruan
Tinggi memerlukan pola dan strategi pembinaan yang berbeda dengan anggota
pramuka lainnya seperti Siaga dan Penggalang.
Tiga misi yang diembankannya
tersebut bukanlah tugas yang ringan untuk direalisasikan. Missi pendidikan di Perguruan
Tinggi merupakan proses berlangsungnya pewarisan ilmu pengetahuan dari satu
generasi ke generasi berikutnya, agar dengan demikian proses alih generasi juga
diikuti dengan proses alih ilmu pengetahuan dalam arti luas. Kemudian dalam
proses berlangsungnya pewarisan ilmu pengetahuan membutuhkan pengembangan
konsep atau teori ke arah konsep atau teori yang lebih baik. Usaha pengembangan
teori atau konsep dilaksanakan secara sistematis dan melalui prosedur ilmiah,
kegiatan ini disebut penelitian. Usaha pewarisan dan pengembangan ilmu
pengetahuan oleh Perguruan Tinggi harus senantiasa memiliki pijakan dan
relevansi dengan kondisi masyarakat. Usaha memformulasikan peran Perguruan
Tinggi dalam dinamika masyarakat inilah yang lebih dikenal dengan nama
pengabdian masyarakat.
Realitasnya, para mahasiswa yang
mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi terkesan enggan mengikuti kegiatan
Pramuka karena menganggap bahwa Pramuka hanya untuk anak sekolahan. Sementara
misi Tridharma Perti biasanya diterjemahkan hanya dalam bentuk
kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dan bahkan tak jarang berlatar politik
praktis. Untuk itulah maka perlu adanya penjelasan bahwasanya terdapat korelasi dalam penerapan Tribina Pramuka Pandega dan
Tridharma Perguruan Tinggi.
I.B. Rumusan Masalah
Dari Latar belakang diatas, dapat
dibuat rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Apakah
yang dimaksud dengan Tribina Pramuka Pandega
2.
Apakah
yang dimaksud dengan Tridharma Perguruan Tinggi
3.
Apakah
terdapat hubungan antara penerapan Tribina Pramuka Pandega dan Tridharma Perguruan
Tinggi.
I.C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah
untuk :
1.
Menjelaskan
tentang Tribina Pramuka Pandega
2.
Menjelaskantentang
Tridharma Perguruan Tinggi
4.
Memaparkan
hubungan antara penerapan Tribina Pramuka Pandega dan Tridharma Perguruan
Tinggi.
I.D. Manfaat Penulisan
Menyediakan penjelasan tentang korelasi dalam penerapan Tribina Pramuka Pandega dan
Tridharma Perguruan Tinggi
BAB II
PEMBAHASAN
II.A Tribina Pramuka Pandega
1.
Pengertian
Pandega
Pramuka Pandega adalah golongan Pramuka dan sekaligus
sebutan bagi anggota Pramuka yang berusia dari 21 tahun sampai dengan 25 tahun.
Pramuka Pandega memiliki jenis kegiatan yang sama dan dilakukan bersama-sama
dengan Pramuka Penegak. Pembinaan Pramuka Pandega dilakukan mulai dari tingkat
Gugusdepan dalam satuan yang disebut Racana, dan di tingkat Kwartir dapat
mengikuti Satuan karya dan Dewan Kerja.[1]
Istilah 'pandega' mempunyai arti 'pemuka' atau 'ahli'. Hal ini mengandung
filosofi berdasarkan romantisme perjuangan bangsa Indonesia di mana setelah
masa 'menegakkan' kemerdekaan Republik Indonesia dilanjutkan dengan masa
'memandegani' pelaksanaan pembangunan di negeri Indonesia.
2.
Tribina pramuka pandega
Tribina Pandega terdiri dari bina
diri, bina satuan dan bina masyarakat ketiganya merupakan siklus saling
melengkapi dan saling mempengaruhi. Melalui program-program kegiatan Bina Diri
di Racana para Pandega mengembangkan kompetensi pengetahuan, sikap dan ketrampilannya
sebagai bekal melakukan Bina Satuan di Gugusdepan dan Kwartir serta sebagai
bekal merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi Bina Masyarakat di lokasi
yang dipilihnya.
Melalui
kegiatan Bina Satuan para Pandega akan memiliki pengalaman berharga untuk
meningkatkan kemampuan dirinya karena dapat terlibat langsung dalam
sebuah proses interaksi pendidikan kepramukaan yang diikat oleh sebuah kode
kehormatan dan prinsip-prinsp dasar metode pendidikan kepramukaan. Demikian
pula melalui program Bina Masyarakat para Pramuka Pandega berkesempatan untuk
meningkatkan kepekaan dan partisipasinya didalam program pemberdayaan
masyarakat dan sekaligus menjadi ajang mencari pengalaman bagaimana cara
mendekatkan pendidikan kepramukaan dengan kebutuhan masyarakat. [2]
a.
Bina Diri ( Pengembangan Kapasitas
Kepribadian).
Melalui program-program
Bina Diri para Pramuka Pandega diberi
kesempatan untuk mengembangkan kapasitas kepribadiannya, seperti :
·
Menjalankan proses perjalanan bakti
Pramuka Pandega sesuai dengan tahapan yang ditetapkan (pencapaian TKU, TKK dan
Pandega Garuda) serta sekaligus sebagai
media untuk menghayati penerapan
Kode Kehormatan Gerakan Pramuka dan media untuk memperoleh pengalaman nyata
dalam penerapan Prinsip Dasar Metodik
Pendidikan Kepramukaan.
·
Dedikasi
dan pemantapan sikap kepemimpinan
yang akan berguna bagi bangsa dan negara, satuan Gerakan Pramuka serta masyarakat di mana ia tinggal.
·
Pendewasakan kecerdasan spritual,
intelektual, emsosiolan dan mental yang akan berguna bagi pengembangan kemapuan
profesionalnya baik untuk mengabdikan diri di Satuan Gerakan Pramuka maupun
berkecimpung di dunia profesional sesuai dengan pilihannya di tengah
masyarakat.
·
Mengembangkan keterampilan, bakat
dan arah
profesi sebagi bekal untuk
menemukan jalan kemandirian dalam berprofesi, berkarya maupun
berwirausaha.
b.
Bina satuan (Pengembangan kemampuan
berpartisipasi dalam Pengelolaan Satuan Gerakan Pramuka)
Bina satuan merupakan tindak lanjut dari
program-program Bina Diri. Melalui program Bina Satuan Para Pramuka Pandega
diberi kesempatan untuk berlatih menerapkan dan mengamalkan kemampuan dirinya didalam pembinaan satuan
Gerakan Pramuka, berupa :
·
Ikut serta dalam pengelolaan Kwartir
dengan menjadi Pengurus Dewan Kerja atau Anggota Sangga Kerja dan Kelompok
Kerja yang dibentuk oleh Kwartir. Melalui Dewan Kerja, para Pandega akan memiliki pengalaman membantuk Kwartir
Gerakan Pramuka didalam merencanakan, melaksanakan, dan mengadakan evaluasi
kegiatan yang sesuai dengan aspirasi mudanya.
·
Ikut serta menjadi calon Pembina atau
Instruktur muda di Satuan Siaga, Penggalang atau Penegak di Gugusdepan. Melalui
partisipasi bina satuan di Gugus depan para Pramuka Pandega akan memiliki
pengalaman langsung melihat dan membantu para Pembina didalam melatih dan
membina para Pramuka di tingkat Gugusdepan.
·
Ikut serta menjadi anggota atau
instruktur Satuan Karya, keanggotaan ini akan menjadi bekal dan dapat
bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan para Pramuka Pandega
dalam bidang-bidang tertentu. Pengetahuan dan ketrampilan ini akan dapat
bermanfaat untuk mendukung program bina satuan dan juga bina masyarakat.
c.
Bina masyarakat (Pengembangan kemampuan berpatisipasi dalam
pemberdayaan masyarakat)
Bina masyarakat merupakan penerapan kemampuan lebih
lanjut dari program-program bina diri dan bina satuan. Melaui program Bina
Maysrakat Para Pramuka Pandega diberi kesempatan untuk mengembangkan kecerdasan
sosialnya, melalui :
·
Pengembangan kesadaran
bermasyarakat sehingga para Pramuka
Pandega dapat berperan dalam kehidupan bermasyarakat secara sehat sekaligus
dapat meletakkan landasan bagi masa depannya sesuai dengan minat dan
pilihannya.
·
Para Pramuka Pandega diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi
kepemimpinannya dengan berperan langsung dalam pemberdayaan masyarakat
baik sebagai peneliti, penyuluh,
penggerak, pelopor dan pemimpin masyarakat, sehingga di kemudian hari dapat
berperan sebagai pemimpin bangsa dan negara.
·
Para Pramuka Pandega diberi kesempatan
untuk melakukan pengabdian kepada
masyarakat meliputi segala bidang kehidupan manusia,seperti bidang ekonomi,
sosial, budaya, agama, kesejahteraan hidup, keluarga berencana, lingkungan
hidup, keamanan dan pertahanan dan lain-lain.
·
Para Pramuka Pandega diberi kesempatan
untuk melakukan “networking” atau pengembangan jaringan kerjasama dengan
berbagai lembaga pemerintah maupun swasta untuk mendukung program-program Bina
Masyarakat yang dilaksanakannya.
II.B
Tridharma Perguruan Tinggi
Perguruan
Tinggi sebagai lembaga pendidikan jenjang terakhir dari hirarki pendidikan
formal mempunyai tiga missi yang diemban yaitu pendidikan, penelitian dan
pengabdian masyarakat atau lebih dikenal dengan Tridharma Perguruan Tinggi. Dalam
UU sisdiknas pasal 20 ayat 3 menerangkan bahwa kewajiban Perguruan Tinggi
terdiri dari tiga hal yaitu:
1.
Pendidikan
Dharma yang
pertama adalah pendidikan, H.A.R. Tilaar mengatakan bahwa pendidikan adalah
proses pembudayaan. Sedangkan menurut YB Mangunwijaya pendidikan adalah ‘belajar
sejati’, yakni mengantar dan menolong anak didik untuk mengenal dan
mengembangkan potensi-potensi dirinya agar menjadi manusia yang mandiri,
dewasa, dan utuh. Tujuan pendidikan menurut Paolo Freire adalah memanusiakan
manusia. Oleh karena itu universitas bukan hanya wahana transfer ilmu
pengetahuan akan tetapi bertujuan membentuk manusia yang intelektual, bermoral,
berbudaya, serta berkepribadian dewasa.
Elemen birokrat dan dosen harus
mampu menyadari dan menginterpretasikan hakikat mendidik dan mengarahkan
peserta didik. Mahasiswa harus menyadari dan kritis bagaimana ia dididik dan
diarahkan kepada pengenalan potensi diri. Model pendidikan konservatif seperti
dosen mengajar dan murid belajar, lalu dosen adalah penentu segala-galanya
sangatlah tidak tepat. “KH Ahmad Dahlan mengatakan
bahwa jika seseorang menjadi guru maka ia belajar untuk menjadi murid”,
artinya dosen harus mau belajar dari mahasiswa dan mahasiswa harus mau belajar
dari dosen. Dosen berhak mengajar mahasiswa namun mahasiswa berhak mengkritik
dosen tentunya sesuai dengan etika moral yang berlaku.
2.
Penelitian
Dharma yang
kedua adalah penelitian, Kata ‘penelitian’ dalam bahasa Inggris adalah
‘research’ yang merupakan gabungan dua kata yaitu ‘re’ (kembali) dan ‘search’
(mencari), sehingga arti kata penelitian adalah mencari kembali. T. Hillway
dalam buku introduction to research menjelaskan bahwa “penelitian adalah
penyelidikan secara hati-hati dan sempurna atas sebuah masalah, sehingga
ditemukan pemecahannya”.
Woody
mendefinisikan penelitian sebagai metode menemukan kebenaran dengan berpikir
kritis. Inti dari penelitian adalah kemampuan memecahkan masalah. Semakin
kompleksnya permasalahan yang dialami dunia baik sosial maupun sains menjadi
tantangan kaum intelektual untuk memecahkannya. Mahasiswa dituntut secara
keilmuan untuk bisa memecahkan permasalahan-permasalahan baik saat ini maupun
masa datang.
3.
Pengabdian
Dharma ketiga
adalah pengabdian kepada masyarakat, masyarakat merupakan elemen pembentuk
sebuah negara, disanalah berbagai permasalahan seringkali timbul. Dunia
akademik dibangun bersumber dari masyarakat, oleh sebab itu arahan yang
terpenting dalam pembangunan keilmuan adalah efek untuk masyarakat. Output
mahasiswa adalah bagaimana ia bisa menerapkan pengetahuan dan skill yang
dimiliki untuk pemberdayaan masyarakat. Ideologi nilaisme dan kerjaisme masih
menjadi hal dominan yang dipahami mahasiswa ketika belajar di Perguruan Tinggi.
Padahal hakikat belajar di Perguruan Tinggi bukan hanya sebuah nilai maupun
mendapatkan pekerjaan yang dikehendaki, yang paling esensial adalah bagaimana
pengetahuan yang didapat di bangku kuliah bisa diimplementasikan untuk
mengatasi persoalan masyarakat.
Ketika sebuah
Universitas mengklaim sebagai wahana kebebasan akademik maka ini merupakan konsekuensi
logis untuk menanamkan tri darma Perguruan Tinggi. Kebebasan akademik menurut
William W.Brickman, adalah hak seorang dosen untuk mengajar, serta hak seorang
mahasiswa untuk belajar tanpa adanya pembatasan dan pencampuran dengan hal-hal
yang tidak rasional. Tanpa kebebasan maka tri darma tidak akan berjalan
efektif, namun setelah kebebasan terwujud maka tri darma harus ditanamkan dan
dioptimalkan. Dan dapat disimpulkan bahwa majunya peradaban bangsa ditandai
dengan majunya pendidikan, penelitian, dan pengabdian.
II.D Korelasi
Penerapan Tribina Pramuka Pandega Dan Tridharma Perguruan Tinggi
Dari penjelasan di atas tentang Tribina
Pramuka Pandega dan Tridharma Perguruan Tinggi, dapat kita simpulkan bahwa
korelasi antara keduanya sangatlah kental. Pramuka pandega yang berpangkalan di
Perguruan Tinggi memiliki tujuan serta misi yang sama dengan Perguruan Tinggi
yang bersangkutan.
Bina Diri dengan pendidikan
adalah dua aspek yang tidak dapat dipisahkan, dimana Pramuka Pandega terus
berupaya untuk mencari berbagai ilmu baik di dalam maupun di luar Gerakan
Pramuka, sehingga dapat memperkaya pengetahuan, pengalaman, dan keterampilannya
agar dapat membantu dirinya menjadi mandiri.
Pada tahap Bina satuan, di
samping dapat membantu Gerakan Pramuka baik dalam hal pengelolaan Kwartir
maupun Gugus depan, Pandega merupakan pasangan kerja sepengabdian bagi para
Pembina Pramuka. Dan ini tidak dapat kita lepaskan dengan penelitian, karena
setelah Pandega mampu membina dirinya sendiri maka pandega dituntut mampu
memecahkan masalah yang dihadapinya baik masalah di lingkungan Pramuka maupun
di luar Pramuka, baik dalam tingkat gugusdepan maupun sampai ke tingkat ranting
bahkan cbang dan nasional, dan untuk memecahkan masalah tersebut harus
dilakukannya penelitian (research).
Contoh kecil, ketika Pandega
mengajar Pramuka (Bina Satuan) satuan siaga misalnya di Sekolah Dasar yang
didalamnya terhimpun bermacam jenis watak anak dri berbagai suku, maka pandega
harus mampu mengkoordinir dan memimpin serta mampu memecahkan masalah yang
dihadapi oleh satuan terssbut. Dan sebelum melakukan pemecahan masalah pandega
harus meneliti problematika apa dan kendala apa yang dihadapi sehingga
munculnya permasalahan. Sama halnya ketika seorang mahasiswa sedang mempelajari
Biologi tentang “mengapa ikan bandeng tidak hidup di air laut?” maka untuk
menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut haruslah dilakukan penelitian
tentang ikan bandeng.
Bina masyarakat yang ada dalam Tribina
Pramuka Pandega dengan pengabdian masyarakat yang ada dalam dalam Tridharma Perguruan
Tinggi adalah dua hal yang bukan berbeda. Kedua-duanya sama-sama mengedepankan
implementasi pengabdian masyarakat. Jika Pramuka Pandega diharapkan sudah
memiliki kepribadian yang kuat sehingga jiwa baktinya diamalkan untuk
kepentingan umum dan lebih mengutamakannya daripada kepentingan pribadi, serta
mencari dan membuat kesempatan untuk dapat membaktikan dirinya kepada
masyarakat, secara perorangan atau bersama-sama. Pramuka Pandega diarahkan
untuk mengembangkan kepemimpinannya, dengan menganjurkan berperan dalam
masyarakat sebagai peneliti, penyuluh, penggerak, pelopor dan pemimpin
masyarakat, sehingga di kemudian hari dapat berperan sebagai pemimpin bangsa
dan negara.
Maka Perguruan Tinggi membentuk
insan akademik intelektualis yang dapat mempertanggungjawabkan kualitas
keilmuannya dan membentuk insan akademis yang mengabdi (sensitif/ involve)
terhadap masyarakat. maka kebebasan belajar (freedom to learn) harus diartikan
secara luas, yaitu tidak hanya terbatas pada dinding-dinding kampus, akan
tetapi juga kebebasan untuk mempelajari persoalan-persoalan yang ada di luar
dinding-dinding kampus (masalah riil dalam masyarakat).
Di manapun kita belajar, akhir
keberhasilan kita ialah ketika kita mampu terjun langsung ke dalam masyarakat,
dengan landasan ini lah maka baik pramuka maupun Perguruan Tinggi sangat
mengedepankan pengabdian masyarakat. Pramuka peduli, penghijauan, desa binaan,
taman baca, bakti sosial, mahasiswa anti narkoba, seminar-seminar tentang
kesehatan, pelatihan-pelatihan tentang kewira usahaan dan kegiatan lainnya
sering dilakukan dan di selenggarakan oleh kedua lembaga ini (Pramuka dan Perguruan
Tinggi) tidak lain hanya ditujukan untuk pengabdian masyarakat umum agar
masyarakat dapat mencicipi dan merasakan betapa Pramuka dan Perguruan Tinggi
sangatlah peduli dan menjunjung tinggi masyarakat sekitar untuk terus maju
berkembang.
BAB III
PENUTUP
III.A. Kesimpulan
Baik
Perguruan Tinggi maupun pramuka pandega sama-sama berorientasi mencetak peserta
didiknya menjadi insan kamil; berpendidikan, berwawasan luas, berbudi luhur
serta bermanfaat bagi masyarakat umum. Ini terbukti karena:
1. Mahasiswa di Perguruan Tinggi/
Pramuka Pandega merupakan masa pengabdian dan pengembangan kepemimpinan.
2. Mahasiswa di Perguruan Tinggi /
Pramuka Pandega diharapkan sudah memiliki kepribadian yang kuat sehingga jiwa
baktinya diamalkan untuk kepentingan umum (Bina Masyarakat)
3. Mahasiswa di Perguruan Tinggi /
Pramuka Pandega diharapkan mempunyai sikap lebih mengutamakan kepentingan umum
dari pada kepentingan pribadi (Bina Masyarakat)
4. Mahasiswa di Perguruan Tinggi/
Pramuka Pandega berusaha sendiri meningkatkan keterampilannya dan kemampuannya
sehingga dapat lebih banyak membantu dirinya agar dapat mandiri (Bina Diri )
5. Mahasiswa di Perguruan Tinggi/
Pramuka Pandega selalu berusaha mencari dan membuat kesempatan untuk dapat
membaktikan dirinya kepada masyarakat, secara perorangan atau bersama-sama.
6. Mahasiswa di Perguruan Tinggi/
Pramuka Pandega Pramuka Pandega diarahkan untuk mengembangkan kepemimpinannya,
dengan menganjurkan berperan dalam masyarakat sebagai peneliti, penyuluh,
penggerak, pelopor dan pemimpin masyarakat, sehingga di kemudian hari dapat
berperan sebagai pemimpin bangsa dan negara.
III.B Saran
Diharapkan bagi para pramuka pandega yang
berpangkalan di Perguruan Tinggi dapat menselaraskan pengaplikasian Tribina
Pramuka dan Tridharma Perti agar fungsinya sebagai generasi penerus bangsa dan
cendekiawan muda Indonesia dapat dijalankan dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. AD/ART Gerakan Pramuka MUNAS
2013. http://www.pramukaindonesia.com/2015/02/ad-art-gerakan-pramuka-indonesia-hasil.html Diakses pada 22 Mei 2015 Pukul
21.51 WIB
Anonim. Tribina Moodel Pembinaan
Pramuka Pandega.2012. http://ensiklopediapramuka.com . Dakses pada 22 Mei 2015 Pukul
20.23 WIB
Kemendikti. Undang-undang Sistem
Pendidikan Nasional. www.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2012/.../UU20-2003-Sisdiknas.pdf.
2003. Diakses pada 22 Mei 2015 Pukul 20.48 WIB
Sunardi, Andri BOB. Boyman Ragam Latih Pramuka. Bandung:
Nuansa Muda.2013
BIODATA PENULIS
Assalamualaikum Wr. Wb…
Salam Pramuka !
Nama
saya Laila Mahmudah Ramlan, biasa di panggil Kak ila. Merantau dari Riau untuk
merasakan panasnya ibu kota dan melanjutkan pendidikan di kampus UIN Jakarta sejak
tahun 2012 lalu. Kuliah di jurusan pendidikan Bilogi, FITK. Saya bukan orang
yang asik di ajak ngobrol karena lebih sering bengong. Tapi kalau ada yang
perlu bisa menghubungi saya di 0823-7326-0339 atau email saja ke lailam_ramlan@ymail.com . sekian dulu perkenalannya
Wassalam,
Salam Pramuka !
[1]
Modul KMD Kwarda Lampung 2011.
[2]
Anonim.Tribina Model Pembinaan Pramuka Pandega (
www.ensiklopediapramuka.com.2012).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar